Bayangkan skenario ini: pasien datang ke klinik Anda untuk cabut gigi. Sebelum tindakan, Anda bertanya apakah ia punya riwayat alergi antibiotik. Pasien bilang tidak tahu — terakhir ke dokter dua tahun lalu, dan catatan lamanya entah di mana. Anda buka laci, cari folder, tumpuk kertas — dan lima menit berlalu hanya untuk menemukan bahwa catatannya memang tidak lengkap. Familiar? Sayangnya, ini masih terjadi di banyak klinik gigi di Indonesia. Bukan Soal Ketinggalan Zaman Ini bukan soal apakah Anda “tech-savvy” atau tidak. Rekam medis berbasis kertas punya masalah yang jauh lebih serius dari sekadar terlihat kuno — masalah yang langsung berdampak pada keselamatan pasien, efisiensi klinik, dan bahkan kepatuhan hukum. ...